Cara Asik Membuat Balita Agar Tidak Takut Periksa Ke Dokter Gigi Dengan Persuatrick

Balita takut ke dokter. Pernahkah Anda mengalami kesulitan membujuk anak Anda ke dokter gigi?

Bagi sebagian anak, kedokter gigi adalah pengalaman yang menakutkan, walaupun mereka beum pernah sekalipun kedokter gigi. Mendengar dan membayangkannya saja mungkin membuat anak berontak tidak mau dibawa kedokter gigi.

Dalam tulisan ini saya akan share pengalaman membawa Azka (4 tahun) periksa ke dokter gigi. Setiap anak dan setiap situasi bisa berbeda. Jadi orang tua dituntut kreatif dan sabar.

Sebelumnya Azka pernah kami bawa kedokter gigi. Sudah sampai ditempat dia tidak mau dan minta pulang. Kami pun tidak memaksanya. Belajar dari pengalaman itu akhirnya kami melakukannya dengan 3 Cara Asik yang akan saya share berikut ini.

Ada 3 hal yang kita perlu perhatikan untuk membawa anak kedokter gigi.

1. Sebelum ke dokter gigi / Pra Kondisi

Fase ini justru adalah fase yang paling penting dan tidak boleh diabaikan. Jangan sampai malah hanya karena kita tidak mempersiapkan dengan baik, anak malah akan menjadi trauma atau menolak dan memberontak saat mau dibawa ke dokter.

Jangan pernah memaksa dan mengancam anak agar mau ke dokter. Jangan memarahi apalagi membentak dan tidak boleh pula merendahkan harga dirinya.

Misalnya:

“Ah..masak gitu aja gak berani”

“Ayo..kalo kamu gak mau, mama gak kasi kamu jajan”

“Ih..cengeng…”

Dan kalimat-kalimat sejenis jangan sampai kita ucapkan.

Anak sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil (takut, cemas, dan lain-lain) maka dalam kondisi emosi yang memuncak itu sugesti akan mudah sekali diterimanya. Tidak peduli sugesti itu negatif atau positif.

Maka, pendekatan persuasif adalah satu-satunya pilihan.

Nah, ini yang seharusnya dilakukan oleh orangtua adalah menguatkan mental mereka:

– Memberi semangat dan kepercayaan diri

“Kamu kan anak yang berani”

“Mama yakin kamu bisa”

“Ayah ada disini temani kamu”

Dan kalimat penguatan lain.

– Membuat suasana menyenangkan

Sebelum kedokter, saya dan bunda Azka bercerita tentang raja kuman yang menyerang gigi. Itu seperti alien yang datang menyerang bumi (seperti cerita Boboiboy-Azka suka dengan karakter kartun Boboiboy pelindung bumi). Sebelumnya Azka mengeluh giginya sakit saat makan. Ternyata gigi bagian belakangnya ada yang bolong.

Nah, karena kuman datang menyerang gigi, jadi kita harus melindungi gigi dari serangan kuman. Nanti, Boboiboy dan Upin-Ipin akan bantuin Azka ngusir kumannya.

Dengan cerita itu kami mengkondisikan bahwa pergi ke dokter gigi itu seperti petualangan Boboiboy ke galaksi.

Perlu diperhatikan respon si anak saat pengkondisian ini. Pastikan dia terlibat dan merespon. Jadi jangan cuma orang tua nya aja yang asik cerita tapi anaknya malah ketakutan atau gak respon. Jika Anda menguasai kemampuan hypnotic story telling sangat membantu dalam proses ini. Jika Anda penasaran bagaimana caranya, mudah-mudahan saya bisa menjelaskannya langsung kepada Anda dikelas Persuatrick.

Jika anak sudah merespon positif seperti yang kita inginkan segera buat komitmen ketika dia bersedia untuk kedokter.

2. Saat didokter gigi

Ini adalah fase yang menegangkan. Jika salah langkah diawal, anak bisa berubah mood dan situasi jadi tidak terkendali dan akhirnya dia tidak mau diperiksa.

Maka dari itu, pengkondisian sebelum berangkat kedokter tadi harus bisa dimunculkan disini.

Yang kami lakukan adalah:

balita takut dokter

Ketika masuk kedalam tempat praktek, kami bertanya kepada perawatnya:

“Kakak perawat/oom dokter, ada senjata Upin-Ipin atau Boboiboy yang bisa buat mengusir kuman di gigi?”

“Azka sama Boboiboy dan Upin-Ipin mau mengusir kuman, bisa kan Oom dokter?’

Biasanya perawat atau dokter langsung tau meresponnya. Kami membuat itu bukan seperti berada di klinik atau tempat praktek, tapi tempat untuk berpetualang mengusir kuman.

Jangan munculkan kesan seram, menakutkan, apalagi memaksa anak. Pastikan Anda melindunginya.

Nah, disaat fase ini..apalagi pada saat sebelum maupun saat dilakukan perawatan, Anda terus memainkan suasanan petualangan itu diselipkan sugesti-sugesti positif yang menguatkan.

Picu anchor yang bisa memunculkan tawa.

Bunda nya Azka memicu tawa Azka dengan mengucapkan “tero re ro reeeet”

Setiap mendengar itu Azka teratwa dan membuat mood nya jadi baik.

Saya menggunakan teknik utilisasi semua situasi yang ada untuk memunculkan respon positif:

Contoh:

“Apapun yang Azka dengar sekarang membuat Azka semakin tenang, semakin berani”

3. Setelah dari dokter.

Beri apresiasi kepada anak setelah dia berhasil melewati petualangannya. Kasi dia semangat dan bangkitkan rasa percaya dirinya.

Beri dia hadiah. Tidak harus mahal, tapi hanya sebagai selebrasi/perayaan keberhasilannya.

Saya tidak menyarankan memberi iming-iming diawal, seperti: kalo kamu mau periksa kedokter nanti diberi mainan”. Sebaiknya jangan. Biarkan keinginann periksa kedokter itu muncul dari dirinya sendiri.

Untuk menyaksikan video bagaimana prosesnya ketika saya melakukannya dan Azka jadi tidak takut diperiksa dokter gigi, berikut videonya:

Semoga bermanfaat. Silakan share siapa tahu orang lain akan mendapatkan manfaatnya pula terkhusus buat orang tua yang masih kebingungan mengatasi balita takut dokter.